Menjelang moment pesta raya pemilihan atau pesta demokrasi, disepanjang
jalan kita akan menemukan berbagai macam baliho-baliho raksasa para balon-balon
(bakal calon) para kandidat dengan berbagai marketing politiknya untuk menarik
konstituennya dalam rangka berebut kekuasaan politik. menariknya Jika kita
mendiskusikan atau berbicara mengenai pilkada identik dengan money politik,
yang diistilahkan dengan uang pelicin, serangan pajar atau istilah-istilah
lainnya untuk mensahkan uang-uang tersebut. Faktanya menjelang pilkada akan
ditemukan uang-uang bantuan dadakan dengan catatan harus memilihnya untuk
menjadi pemenang kandidat tersebut. Hal tersebut bukan rahasia umum lagi
masyarakat saat ini justru menunggu bahkan menjadikan lahan untuk memperoleh
hasil atau mendapatkan keuntungan pendapatan. Sehingga tak banyak para penguasa
yang menjadi tahanan KPK salah satu yang terjadi pada calon gubernur kota
kendari Asrun dan anaknya yang baru-baru ini lantik sebagai walikota kendari
Sulawesi tenggara yaitu ADP (adriatma dwi putra) (portal sutra.com).
sehingga menyikapi
fenomena tersebut yang semakin memprihatinkan para tokoh-tokoh yang seharusnya
menjadi wakil rakyat justru menjadi lintah darat menjadi penjahat terselubung yang menipu dan
mengambil serta menjerumuskan dalam kesadaran palsu sebagaimana yang di maksud
karl marx. Maka untuk itu Perlu adanya fasilitasi untuk memahamkan dengan upaya
pencerahan sosialisasi dengan menghadirkan orang yang berpotensi pada politik
dengan menunjukan bukti autentik, dengan membiarkan money politics
berarti membiarkan mereka melakukan korupsi dengan mengundang tokoh masyarakat
untuk menjelaskan, keberhasilan suatu negeri bergantung pada pemimpinnya, sejatinya dari zaman ke zaman kebiasaan ini telah mengakar maka kita
membutuhkan metode baru untuk menghindari money politics ada sebuah kesengajaan
dari sejarah untuk menananm kejahatan-kejahatan yg dilakukan dengan
pembiaran semakin berlarut menjadi suatu kesejangaan sebagaimana dalam orientasi teori sosiologi kritik bahwa ada unsur yang sengaja dikacaukan pada masa lalu sehingga berdampak saat ini. Hal yg dilakukan pada oknum politics yang diterapkan, menanamkan money politics periode waktu jangka pendek, dengan pemahaman mendasar
penghancur demokrasi indonesia esensinya kita bebas bersuara tanpa intervensi
kaum elite. Hal ini adanya paradigma pragmatis dengan strategi meraup
masa banyak dengan menggunakan iming-iming materi maka mereka berani mengambil resiko
mengeluarkan beberapa puluhan juta untuk kampanye dengan sistem barter tersebut.
Masyarakat dengan keadaan yang dibutakan mengabaikan dan yang acu untuk memperhatikan persoalan ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar