tulisan ini merupakan resume dari
diskusi harian saat dikelas sosiologi dalam mata kuliah teori sosiologi kritik, yang
mengambarkan bagaimana kritikan berbagai fenomena eksploitasi yang sedang
terjadi.
Berbagai
macam eksploitasi local gencar terjadi khususnya di indonesia, masuknya
industry pertambangan yang dimotori oleh para investor tenaga asing yang menjadi fokusnya adalah di morowali
Sulawesi tengah, masuknya para kapitalisme tersebut memengaruhi masyarakat
local yang kemudian terjadi marjinalisasi terhadap tenaga kerja local. Reklamasi tambang yang terjadi dimorowali
secara massif tersebut menimbulkan berbagai masalah-masalah baru bagi
masayarakat morowali Sulawesi tengah hal ini sebagaimana pada pandangan karl
marx dengan konsep materialismenya para
kaum buruh atau pekerja yaitu masyarakat local sebagai kaum ploretar dan yang menjadi kaum borjuisnya
dalah para tenaga asing Tiongkok. Kesenjangan yang semakin tajam ini menjadi
ihwal marjinalisasi masyarakat local yang mengarah kemiskinan semakin muncul
dipermukaan. Kedatangan proyek kapitalis yang berbasis ekonomi begitu gencar
meraup profit sebesar-besarnya dengan berbagaimacam memanipulasi, trik-trik proyek
pembebasan untuk pencerahan masyarakat dengan mengandeng para kaum elite di
Indonesia agar mendatangani proyek jelmaaan yang sebenarnya bertujuan melakukan
perbudakan dengan mendulang kekayaan sumber daya alam .
Menyoal
hal tersebut jelas sekali dampaknya lebih banyak negatifnya dibandingkan
positifnya, yang dulunya belum ada pekerjaan sama sekali
sekarang memiliki perkerjaan, namun masalahnya banyak penduduk local kehilangan
pekerjaan yang notabenenya mengantungkan dirinya pada sumber daya alam seperti
bertani atau hal yang bergerak pada bidang agraris maupun bahari mereka
kehilangan akses sumber daya tersembut. Ketika ada pembebasan lahan bagi para
investor tersebut menjadi malapetaka bagi masyarakat local semakin menyempitnya
lahan milik pribadi dan makin terkuasainya mereka menjadikan mereka tidak
berdaya lagi.
Masuknya
investor tersebut tak pelak karena ekonomi yang begitu memprihatinkan niat untuk melakukan
pengentasan atau pendorong dari pada pembangunan masyarakat justru semakin
menjerat dalam lingkaran setan kemiskinan. Masayarakat yang tidak memiliki daya
kritis karena tekanan tersebut semakin melegalkan keberadaan penjajahan
tersebut karena menerima adanya akan kondisi tersebut atau karena tidak berdaya lagi untuk melakukan perlawana. Banyak mengatakan etos kerja
masayarakatlah yang menyebabkan kemiskinan tapi sebenarnya itu sebuah kamuflase
dari para kaum elite untuk memojokkan masayarakat yang disebutnya dengan
pemalas. Wajarkah Negara kita yang dikatakan under development karena masyarakat
miskin padahal sumber daya alamnya memadai berarti ada yang salah dengan para
kaum elite yang berkuasa hal ini bukan sebuah wacana baru lagi ketika
menyaksiskan kasus koruptor dan rekening gendut atau kasus papa minta saham,
bukankah hal tersebut merupakan para bandit-bandit yang melakukan proses
pemiskinan bagi masyarakat, karena bukan para penjual sayur, penambal ban ,
atau mereka para sopir angkutan yang melakukan korupsi atau mebiarkan para
investor asing terus menurus gencar mendirikan perusahannya dan mengirimkan
tenaga kerjanya yang sebenarnya tidak perlu Karena pekerjaan tersebut dapat
dilakukan para pekerja local.
Maka
yang menjadi harapanya adalah melakukan peninjauan ulang akan investor atau melakukan moratorium (pemberhentian)
sementara untuk mengetahui apakah keberadaan perusahaan tersebut lebih banyak
manfaatnya dan dapat mengangakat para kaum miskin atau sebaliknya semakin
memberikan luka material bagi masyrakat local yang tereksploitasi sumber
dayanya, dan selain itu perlunya memperbaiki sistem regulasi akan visa imigran
asing yang legal atau sekedar menjadi turis. Bagaimana perselingkuhan antara
investor asing dan pemerintah menjadi momok yang sangat segar dipikiran kita
para kapitalisme semakin merajalela dengan berlindung pada paying hukum yang
dilegalkan para kaum elite dalam ranah politiknya convention of economy. Para
kritisi yang duduk dalam tambuk kekuasaan pun tak pelak diracuni yang dulunya pro rakyat dengan
iming segepok profit yang ditawarkan maka bergeser pro asing tersebut daripada pro rakyat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar